24 Desember, 2012

Kebebasan dalam keterbatasan

Apa yang pertama kali ada dalam pikiran kita sewaktu dengar kata bebas? Burung, aturan, merdeka, atau anarki? Dalam KBBI sendiri arti bebas yaitu:
be·bas /b├ębas/ a 1 lepas sama sekali (tidak terhalang, terganggu, dsb sehingga dapat bergerak, berbicara, berbuat, dsb dng leluasa): tiap anggota -- mengemukakan pendapat; burung itu terbang -- di angkasa; 2 lepas dr (kewajiban, tuntutan, perasaan takut, dsb): hari ini ia -- dr kewajiban mengajar; krn memang tidak bersalah, ia -- dr tuntutan; 3 tidak dikenakan (pajak, hukuman, dsb): surat dinas ini -- bea; 4 tidak terikat atau terbatas oleh aturan dsb: obat itu dijual -- dan terdapat di setiap apotek; 5 merdeka (tidak dijajah, diperintah, atau tidak dipengaruhi oleh negara lain atau kekuasaan asing): sehabis Perang Dunia II banyak negara yg --; politik luar negeri yg -- dan aktif; 6 tidak terdapat (didapati) lagi: negara kita belum -- buta huruf; daerah ini sudah -- cacar; [KBBI Offline v1.3]
danbo freedom
Sebagai akibat dari demokrasi, setiap orang di negeri ini menjadi merasa bebas untuk berbicara. Bebas untuk mengemukakan pendapat hinggap tak peduli aturan. Pendemo yang memblokir jalan hanya tahu bahwa ia bebas berbicara, bebas mengemukakan pendapat di negara demokrasi ini. Mereka lupa (jika tidak ingin dikatakan tidak tahu) ada aturan yang mengatur, ada kebebasan orang lain yang mereka abaikan. Mereka merasa bebas berbuat apa saja dalam menyampaikan pendapat yang terkadang mereka sendiri belum tahu persis duduk perkaranya.

Ataukah bebas seperti anak-anak punk gelandangan yang anti kemapanan? Itukah yang mereka sebut bebas? Jika memang ingin benar-benar bebas, silakan tinggal sendiri di hutan. Tapi sama saja, kebebasan kita di hutang akan terhalang oleh kebebasan alam. Aturan akan tetap ada selama kita masih hidup, tertulis atau tidak tertulis. Lalu kebebasan itu seperti apa?

Kebebasan menurut kebanyakan orang di atas bisa dikatakan kebebasan dalam arti negatif. Input dari mata dan telinga dari lingkungan dan media yang kebanyakan berbau negatif merangsang otak untuk cenderung berpikir negatif. Kebebasan dalam arti lainnya yaitu sesuai fitrah manusia. Karena pada dasarnya manusia dilahirkan dalam keadaan suci. Bebas menurut ar-Raghib al-Ishfahani, dalam kitabnya menerangkan dua arti bebas (hurr): pertama, bebas dari ikatan hukum; kedua, bebas dari sifat-sifat buruk seperti rakus harta sehingga diperbudak olehnya. Makna selanjutnya dari kebebasan adalah daya kemampuan (istitha‘ah) dan kehendak (masyi’ah) atau keinginan (iradah) yang Allah berikan kepada kita untuk memilih jalan hidup masing-masing. Mau memilih jalan yang lurus atau berbelok-belok, jalan para nabi dan orang sholeh atau jalan setan. Terserah, mau patuh atau membangkang. Walaupun dalam islam tidak ada paksaan, akan tetapi tetap saja tiap jalan yang dipilih selalu ada konsekuensinya.
”Barangsiapa yg mengerjakan amal yang saleh maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka (dosanya) untuk dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu menganiaya hamba-hambaNya” (QS. Fushshilat:46).
Maka dari itu kebebasan sejati akan memantulkan ilmu dan adab, sedangkan kebebasan palsu akan mencerminkan kebodohan dan kebiadaban. Kita bisa bebas ngomong apa saja, tapi orang lain juga bebas memilih akan mendengarkan atau tidak; bebas mendengarkan atau membungkam kita. Kalian bebas mengutarakan pendapat, tapi juga harus dengan cara yang tepat tanpa mengorbankan kepentingan orang lain dengan memblokir jalan atau demo anarkis. Gunakan kebebasan secara cerdas yang akan mencerminkan ilmu dan adab yang ada pada kita.


Sumber http://chirpstory.com/li/38618 (INSIST ) dengan perubahan seperlunya.
Gambar: Flickriver

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar