22 April, 2014

#matikata; Ku Puisikan Namamu

Hilir rindu tak ada yang tahu
Endapan rasa tak ada yang menyangka seberapa tingginya
Sementara sungai terus menumpuk apapun yang dibawanya
Terpikir tuk buang dilautan, sering kali tersangkut di akar berserakan
Usah lagi peduli, rindu tak kan basi

Mengeja dengan seksama kata c i n t a
Usaha tanpa henti memahami, merealisasikannya
Gerbang jiwa menganga
Isyarat terbaca, terbata-bata
Niat ikhlas harus tetap dijaga, pada awal hingga akhirya
Isu dibuang, cari fakta nyata bukan muntahan iri dan angan
Niat lurus tetap dipelihara, pada pangkal hingga ujungnya
Gerakkan kaki, tangan, dan pikiran pada satu tujuan

Renda rindu menghiasi tiap ujung ingatanku
Abdi rasa sering kali lupa, ini tak selamanya
Hingga terpisah, rasa ini tak kan sirna
Asa surga, bersama
Yakin bahagia pada akhirnya
Usah sedih.. tetap berdoa, tetap percaya, tetap bersama

14 Maret, 2014

"Pasar" Sikunir dan Telaga Dringo, Ranukumbolo KW dua

Ajakan yang awalnya saya tolak karena biaya yang tidak murah, tapi ternyata saya yang salah. Jadi biaya 200 ribuan rupiah itu jika menggunakan jasa (sejenis) travel. Memutuskan untuk ikut setelah awalnya galau antara Dieng atau Gunung Purba (Wonosari). Kesempatan (ajakan) camping ke Dieng mungkin tidak akan datang dua kali, tapi ke Wonosari bisa kapan-kapan ke sana. Dengan pengalaman sekali camping di Pos Mawar (Bandungan) saya beranikan diri ikut ajakan dari orang yang sama ( +Olipe Oile ) untuk camping di Dieng.Cuaca yang tidak stabil dan kondisi badan yang kurang fit saat itu tidak menyurutkan niat saya untuk berangkat. Bismillah..


Rencananya berangkat pagi-pagi supaya sampai sana tidak terlalu sore, bisa mendirikan tenda lalu istirahat. Ternyata rencana berubah, jam 10 sampai terminal Wonosobo saya bergabung dengan 5 orang rombongan dari Purwokerto. Lalu ditawari Kaka (salah satu rombongan dari Wonosobo) isitirahat di rumahnya, berangkat camping malam harinya. Saya sih mengiyakan saja, karena badan juga sedang tidak begitu enak waktu itu (batuk, pilek, sedikit pusing). Setelah isitirahat sebentar (bisa tidur cuma beberapa menit), sore setelah asar kami mengisi tenaga dengan pesta durian sampai kenyang. Berangkat naik ke Dieng sekitar jam 8 (atau 9) malam. Ditambah dengan rombongan dari Wonosobo camping kali ini berasa rame banget, ada belasan (lupa tidak menghitung).

15 Februari, 2014

#matikata: Sepi sapa

Kepada hujan aku titipkan pesan
pagi ini hati merindu setengah mati
daun jati berguguran di halaman
menanti kabar hingga lupa makan

Apa kabarmu di kota tetangga?
sebuah titik di awal sapa
tertanda colek sebelum salam pembuka
tak lupa kurung tutup setelah titik dua

Apa kabarmu di mana?
teman sebangku, 10 tahun tidak terdengar kabarnya
katanya sudah jadi koki di hotel ternama
bahagia mendengarnya

Apa kabarmu di pulau seberang sana?
adik tegar nan kuat
sangat ingin kakak angkat
sekarang sepi sapa seperti baru kenal saja

Apa kabarmu siapa saja?
yang pernah kenal dan pernah saling sapa
sepertinya waktu melepas ikatannya
aku lupa

Rindu redam oleh hujan
hanyut suasana dingin malam
pelangi kelilingi separuh rembulan
aku diam

Tulis rindu di atas bayu
mengalir riuh mengganggu batu di bawahnya
perindu tak peduli
orang lain tak kan mengerti

Dalam sepi sapa, aku bahagia.

30 Januari, 2014

(Bukan) Taman Jurug

Mungkin saya menjadi salah satu korban lagu campursari ini, Taman Jurug. Yang benar Satwa Taru Jurug atau Kebun Binatang Jurug. Kebun binatang ini berada di Solo, tepatnya di Jl. Ir. Sutami No. 40 (Jebres), Surakarta, Jawa Tengah. Cukup mudah dijangkau karena berada di pinggir jalan besar. Sila cek map saja biar jelas :)


Berawal dari pertanyaan adik tentang tempat wisata di daerah Solo dan sekitarnya yang menarik. Dari beberapa pilihan, kami memutuskan Jurug karena tempat itu yang sepertinya paling menarik untuk semua kalangan. Tujuan utama piknik ini untuk merayakan ulang tahun adik sekaligus anaknya (3thn) yang selang beberapa hari. Sekalian mengajak keluarga mengunjungi saudara di dekat Bonbin Jurug.

Setelah masuk melalui loket pertama kali kita akan disuguhi binatang khas kebun binatang, gajah. Kalau berani ada dua ekor gajah yang siap ditunggangi ditemani pawangnya. Lima ribu sekali puter, tapi ya cuma beberapa meter :D Selanjutnya berbagai macam burung terlihat dalam sangkar yang besar. Walaupun tidak lengkap tapi sudah cukup banyak macamnya.

02 Januari, 2014

Camping (Wisata Kuliner) di Pos Mawar

Berawal dari foto Umbul Sidomukti yang lewat di timeline twitter, saya tertarik untuk ikut nimbrung rencana camping temen saya beserta rombongannya dari Purwokerto. Seingat saya, ini adalah camping ketiga ssampai seumur hidup saya. Dua sebelumnya itu waktu pramuka SD dan SMP, sudah lupa rasanya. Ketertarikan saya ini sebenarnya karena foto Umbul Sidomukti, pengen ke sana lagi. Ternyata mereka tidak jadi mampir karena USM terlalu penuh, mungkin karena pas liburan akhir tahun. Tidak menarik lagi kalau penuh orang. Jadi ahad siang mereka langsung menuju ke Pos Mawar untuk camping.

Pos Mawar adalah pos pertama untuk pendakian Gunung Ungaran. Akses untuk menuju ke sana cukup mudah, baik menggunakan motor atau mobil. Tempatnya berada di atas Umbul Sidomukti, sekitar 400 m. Pada akhir pekan biasanya ramai pengunjung yang ingin sekedar camping atau mendaki ke Gunung Ungaran. Kecuali akhir tahun ini memang banyak yang berkunjung (kata penjaganya). Selain akses mudah, yang membuat orang tertarik ke sini adalah fasilitas yang cukup lengkap. Mulai dari air yang melimpah (empat kamar mandi), mushola, warung makan, listrik (di warung) dan keamanan. Areanya lumayan luas, cukup untuk menampung belasan tenda dan waktu kami ke sana area camping sepertinya sedang diperluas.