Tampilkan postingan dengan label ilmu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ilmu. Tampilkan semua postingan

16 Juni, 2011

Pompa Ajaib

Apa yang terjadijika sebuah pompa bekerja terus-menerus sepanjang hari? Pasti belumlah sampai umur setahun si pompa akan masuk bengkel atau bahkan mati terbakar.

Tapi tidak dengan pompa yang ada di rongga dada kita. Namanya jantung, organ tubuh yang bertanggung jawab memompa darah ke seluruh pembuluh dalam dalam tubuh kita. Jantung berdenyut sepanjan waktu seumur hidup kita. Bahkan saat tidur pun, jantung tetap bekerja memnuhi suplai oksigen ke seluruh sel tubuh.

Bayangkan kemampuannya. Dalam semenit, rata- rata normal jantung orang dewasa berdenyut 70 kali. Ini setara dengan 4.200 kali dalam satu jam, atau 100.800 kali dalam sehari atau 3.6792.000 denyut dalam setahun. Jika mencapai umur 65 tahun, maka minimal jantung kita telah berdenyut sebanyak 2,391,480,000 kali. Jantung akan berdenyut 3 kali lebih cepat dalam kondisi stress, cemas, ketakutan atau dalam olah raga berat.

Dalam semenit, jantung mampu memompa 3 liter darah per meter persegi luas permukaan tubuh orang dewasa atau 102,492,000 liter selama 65 tahun. Hebatnya lagi, jantung yang memiliki kemampuan dasyat, hanya berukuran segenggaman tangan kita. Allahu Akbar!
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentu yang sebaik-baiknya.” (Q.S At-Tin: 4)


Majalah Ar-Risalah No. 63 / Th VI Sya'ban – Ramadhan 1427 H

12 April, 2011

Tentang Doktrinasi

Doktrinasi tidak lain merupakan cara untuk mempengaruhi orang lain dengan sebuah pemaksaan apa yang ada di pikiran kita harus sesuai dengan apa yang ada di dalam pikiran orang lain, baik dalam bentuk dialog, debat, pertanyaan retoris, dan lain sebagainya. Cara ini dianggap sebagai cara yang efektif untuk infiltrasi pemikiran dan biasa dipakai oleh orang – orang pengkader untuk merekrut kader yang kemudian siap untuk digerakkan.
Satu contoh di Jerman pada waktu NAZI berkuasa, Adolf Hitler melakukan upaya doktrinasi dengan menyuarakan seruan – seruan chauvinisme dengan slogan “ Ras Arya adalah pemimpin dunia “. Akibatnya memang cukup dahsyat. Buktinya dengan keberhasilan yang diperoleh tentara NAZI dalam melakukan Blitzkrieg ke daerah – daerah sekitar Jerman.
http://aasep.wordpress.com/2008/07/03/doktrinasi-vs-keteladanan/

Metode paling efektif untuk mendoktrinasi seseorang adalah dengan cara membuat orang tersebut berada dalam kondisi ”zero level”. Zero level ini merupakan sebuah kondisi dimana seseorang begitu lelah sampai tidak bisa berpikir dengan jernih, sehingga kalau kita katakan bahwa 2+2=5 disertai sedikit argumentasi yang kita buat sendiri, orang itu akan percaya.

10 Juni, 2010

Latah

Latah menurut Wikipedia:
Latah is a condition where, triggered by the startle reflex, victims fall into a trance and enact repetitious verbal and/or physical automatisms. Latah is found only in certain world cultures. Therefore, it is commonly considered a culture-specific syndrome.
Kalau menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), latah itu:
menderita sakit saraf dng suka meniru-niru perbuatan atau ucapan orang lain; 2 berlaku spt orang gila (msl krn kematian orang yg dikasihi); 3 meniru-niru sikap, perbuatan, atau kebiasaan orang atau bangsa lain: kita jangan -- thd kebudayaan asing;
Latah dapat muncul dalam beberapa macam bentuk antara lain pengulangan kata ( echolalia ). Diambil dari bahasa Yunani, ‘echo‘ berarti mengulang, dan ‘alia‘ yang berarti ‘babbling‘ atau percakapan tak bermakna. Contohnya saja orang latah yang sering mengucapkan ‘eh copot-copot’ saat panik. Ada juga latah yang bila terjadi pada saat kaget langsung mengeluarkan kata-kata bernada keras seperti sumpah serapah dan kata-kata kasar. Latah jenis ini disebut coprolalia yang artinya percakapan nggak bermakna, yang sifatnya tabu dan tidak sesuai dengan norma sosial. Selain latah verbal seperti yang dijelaskan di atas, ada juga latah non verbal, yaitu berupa gerakan tubuh. Kalau gerakan itu mengikuti gerakan orang lain, maka latah ini disebut echopraxia. Misalnya saat kaget, dia melompat-lompat atau mengerak-gerakkan tangan. Sedangkan gerakan yang mengarah pada gerakan yang dinilai tabu, disebut copropraxia. Masih ada lagi, yaitu latah mengikuti gerakan sesuai perintah (automatic obedience).

Penyebab utama latah adalah kecemasan atau tertekan gara-gara stress. Ada beberapa teori yang menyebabkan timbulnya gangguan latah, yaitu :

Teori Pemberontakan. Dalam kondisi latah, seseorang bisa mengucapkan hal-hal yang dilarang tanpa merasa bersalah. Gejala ini semacam gangguan tingkah laku. Lebih kearah obsesif karena ada dorongan yang tidak terkendali untuk mengatakan atau melakukan sesuatu.

Teori Kecemasan. Gejala latah muncul karena yang bersangkutan memiliki kecemasan terhadap sesuatu tanpa ia sadari. Rata-rata, dalam kehidupan pengidap latah selalu terdapat tokoh otoriter, entah ayah atau ibu. Bisa jadi, latah merupakan jalan pemberontakannya terhadap dominan orang tua yang sangat menekan.

Teori Pengondisian. Inilah yang disebut latah gara-gara ketularan. Seseorang mengidap latah karena dikondisikan oleh lingkungannya, misalnya gara-gara latah, seseorang merasa diperhatikan dan diperhatikan oleh lingkungan. Dengan begitu, latah juga merupakan upaya mencari perhatian. Latah semacam ini disebut ”latah gaul.

Lalu bagaimana mengurangi atau bahkan menyembuhkannya?

13 Oktober, 2008

Mengapa Kata Pertama Bayi "Mama"

kompas.com - Sebagian besar bayi umumnya mengucapkan "mama" atau sejenisnya sebagai kata pertama yang dikenalnya. Kata tersebut ternyata memang struktur kata yang paling sederhana dan paling mudah dikenali bayi.
Kuncinya pada pengulangan suku kata. Otak bayi merespon pengulangan tersebut dengan sangat baik. Itulah kesimpulan Judit Gervain, peneliti dari University British-Columbia, yang dipublikasikan dalam Proceedings of the National Academy of Sciences edisi terbaru.

Kesimpulan tersebut diambil setelah Gervain melakukan pemindaian terhadap 22 bayi yang baru berusia 2-3 hari. Kepada bayi-bayi tersebut diperdengarkan sejumlah kata yang mengandung perulangan, seperti mubaba dan penana dan yang tidak seperti mibage dan penaku.

Saat kata yang mengandung bentuk perulangan diperdengarkan, otak bayi di bagian temporal dan frontal kiri bereaksi. Sebaliknya, saat kata yang tidak mengandung perulangan diberikan, tidak ada bagian otak yang memberikan respon dominan.

"Hal tersebut mungkin yang membuat banyak penutur berbagai bahasa tanpa sengaja memiliki daftar kata berulang untuk anak-anaknya," ujar Gervain. Hasil penelitiannya juga sesuai dengan fakta bahwa pusat bahasa pada orang dewasa yang tidak kidal berada di otak kiri.

Jadi, sudah jelas mengapa kata "mama" atau "papa", "tata", "dada", dan sejenisnya paling mudah untuk melatih vokal bayi. Temuan ini juga mengindikasikan bahwa kemampuan untuk mengenali kata yang mengandung perulangan merupakan sifat dasar otak manusia. Sifat inilah yang membuat dapat belajar bahasa ibu secara sistematis dan efisien.

05 September, 2008

Mencemaskan Penampilan

Melanjutkan posting yang lalu, berikut penjelasan lebih jelas tentang body dysmorphic disorder (BDD) yang saya ringkas dari e-psikologi.com.

Ciri-Ciri
Tidak semua orang yang memperhatikan atau mengkhawatirkan penampilan, dapat langsung dikategorikan sebagai BDD. Ada beberapa karakteristik dari penderita BDD:

1.Rendahnya self-esteem dan konsep diri negatif
Penderita BDD, biasanya memiliki self esteem yang rendah dan konsep diri yang negatif. Perasaan takut untuk dilecehkan, diabaikan, disingkirkan dan dijauhi – membuat mereka sering merasa tidak nyaman berada di tengah-tengah komunitas. Mereka pun dikatakan memiliki perasaan tidak berguna, serta memiliki perasaan yang terlalu sensitif. Penderita merasa takut jika orang lain memperhatikan kekurangan dan “cacat” tersebut, sehingga mereka melakukan ritual-ritual untuk menutupi “kekurangan”. Ritual seperti:

a. Menghabiskan waktu lama untuk berkali-kali bercermin, memeriksa penampilan diri, atau bahkan tidak pernah mau berkaca – menghindari cermin
b.Selalu memfokuskan kekurangan diri untuk dibandingkan dengan orang lain
c.Selalu membutuhkan konfirmasi dari orang lain, bahwa kekurangan itu tidaklah seberapa – atau dia tidak lah terlalu buruk
d.Berdandan secara berlebihan, untuk menutupi “kekurangan”, misalnya dengan terus menerus menyisir dan menata rambut, menggunakan make up berulang kali (dihapus dan dipoles kembali), menggunakan topi atau kaca mata gelap untuk menutupi mata, berulang kali bercukur, sampai sengaja menggunakan pakaian / kostum tertentu (yang kurang proporsional) untuk menyebunyikan kekurangannya
e.Sering sekali berkonsultasi dan meminta treatment dari Dermatologist, ahli kosmetik, atau pun berkali-kali operasi plastik (dan tidak pernah merasa puas akan hasilnya)
f.Berlatih amat keras atau pun diet super ketat untuk membentuk tubuh untuk mencapai bentuk ideal yang didambakan
g.Sering sekali dan berulang-ulang menyentuh bagian yang dinilai sebagai kekurangan
h.Selalu mencari referensi bacaan yang membicarakan masalah bagian tubuh yang dirasa kurang

2.Menghabiskan 1 - 3 jam setiap hari untuk mengurusi penampilan
Penderita BDD, umumnya larut dalam pemikiran dan perilaku berkaitan dengan perceived defect paling tidak minimal 1 jam atau lebih setiap harinya. Mereka juga dikatakan kurang memiliki pemahaman atas masalah yang terjadi (ada sesuatu yang tidak benar sedang terjadi pada diri saya; atau, apa yang menjadi masalah saya sesungguhnya).

3. Menghindari situasi sosial dan penurunan fungsi sosial

Penderita BDD, seringkali menghindari situasi sosial karena mereka takut jika orang lain akan memperhatikan dan mengetahui kekurangan mereka.

4.Disertai simtom depresi

Kondisi lain yang menyertai symptom BDD, menurut Gary K. Arthur MD – seorang psikiater, adalah adanya major depression. BDD telah memunculkan kondisi depresi yang cukup berat, dan bukan karena sebaliknya (bukan depresi menyebabkan BDD, tapi BDD menyebabkan depresi).

Siapa kah yang terkena?

Menurut Dr. Katherine Phillips, seorang peneliti yang khusus meneliti masalah Body Dysmorphic Disorder, BDD pada umumnya mulai tampak ketika seorang individu dalam masa remaja atau pun awal masa dewasa (bisa jadi berawal sejak masa kecil, namun selama ini tidak pernah terdeteksi). Normalnya, kecemasan itu bersifat sementara dan akan memudar dengan sendirinya ketika sang remaja mampu membangun rasa percaya diri yang positif dan realistik-kongkrit melalui aktivitas dan pengalaman sehari-hari. Namun, ada juga yang semakin tenggelam dalam kepanikan dan kecemasan, karena mereka sangat mengidealkan penampilan, kecantikan, kelangsingan atau bahkan kalau remaja pria – kelihatan kekar.

Dan Bagaimana Penanganannya?

Beberapa ahli kedokteran, telah mengembangkan cara penanganan dengan menggunakan obat-obatan yang tergolong antidepresan, yaitu SSRI (Selective Serotonin-Reuptake Inhibitors) untuk menangani depresi dan obsessive-compulsive disorder yang biasanya terdapat di dalam penderita BDD. Namun yang perlu diperhatikan, adalah bahwa dalam setiap penggunaan obat, akan ada efek samping yang harus diketahui terlebih dahulu, apalagi jika obat-obatan tersebut dikonsumsi dalam jangka waktu lama.
Para ahli mengatakan bahwa cognitive-behavioral therapy dan cognitive-rational therapy, sangat tepat untuk membantu penderita memahami akar permasalahan yang sesunggunya, peran konsep diri terhadap BDD yang dialami, seberapa besar dampak yang dialami dan merugikan kehidupan Klien – agar diharapkan Klien mau dan berusaha keras untuk membangun konsep diri dan pola pikir yang lebih positif dan obyektif dalam menilai diri.
Selain itu, penderita juga dibimbing atau dilatih untuk membangun alternatif strategi dan jalan keluar dalam mengatasi pikiran-pikiran obsessive yang mengganggu konsentrasi dan meningkatkan pengendalian diri terhadap tindakan kompulsif-nya (misalnya, untuk terus menerus bercermin). Yang tidak kalah pentingnya, adalah adanya dukungan keluarga terhadap penderita BDD. Memang proses ini bukanlah proses yang mudah, namun membutuhkan pengertian dan kesabaran yang dalam. Bagaimana pun, masalah BDD ini adalah masalah yang sangat serius dan tidak bisa berlalu begitu saja jika tidak ditangani secara professional.

04 Desember, 2007

Rumus Pemetikan Teh


Pemetikan teh memerlukan ketelitian tinggi karena memiliki rumusan tersendiri. Rumusan tersebut dibagi ke dalam 3 kategori, yaitu:
1. Petikan halus dengan rumus p+1 atau b+1 m.
Artinya pucuk yang dihasilkan terdiri dari pucuk peko (p) dengan satu daun, atau pucuk burung (b) dengan satu daun muda (m).
2. Petikan medium, dengan rumus p+2, p+3, b+1 m, b+2 m, b+3 m.
Rumus ini menandakan bahwa pucuk yang dihasilkan terdiri dari pucuk peko dengan dua daun, 3 daun muda, serta pucuk burung dengan satu, dua, atau tiga daun muda.

3. Petikan kasar, dengan rumus p+4 atau lebih dan b+(1-4).
Ini berarti pucuk yang dihasilkan terdiri dari pucuk peko dengan empat daun atau lebih dan pucuk burung dengan beberapa daun tua.
Untuk menghasilkan teh berkualitas, rumus pemetikan yang digunakan adalah petikan halus p+1 atau b+1 m. Memang tidak mudah menerapkan rumus tersebut, tapi untuk menghasilkan teh yang terbaik hal tersebut haruslah dilakukan.

dari: sosro.com

11 Agustus, 2007

Membaca Sambil Tiduran

Benarkah kebiasaan membaca sambil tiduran ada gangguannya dengan mata minus?
“Bukan posisi membacanya yang sebenarnya menyebabkan mata rusak, tetapi lampu yang menerangi tulisan. Jadi tidak ada hubungan antara posisi tidur sambil membaca dan kelainan mata.”
Pada posisi sambil duduk, lampu menerangi biasanya dating dari atas, sehingga posisi demikian dinilai paling baik. Namun tidak ada salahnya anak-anak atau siapapun, untuk tidak membaca sambil tiduran, apalagi kalau lampu penerangan tidak cukup.

Untuk keperluan membaca, atau juga pekerjaan tangan yang rumit seperti menjahit, melukis, menulis dan sebagainya disarankan menggunakan penerangan dengan bola lampu susu 40 watt. Sebaiknya sinarnya dipusatkan ke objek bacaan atau pekerjaan yang dilakukan. Bola lampu susu tidak silau karena ada filternya. Sedangkan lampu neon tidak disarankan karena sinarnya berupa getaran. Lampu duduk dengan bohlam 60 watt dinilai terlalu terang, sebaliknya dibawah 40 watt terlalu redup. Kurangnya penerangna yang cukup menyebabkan kerja otot terlalu berat sehingga mata mudah lelah dan pedih, dan ini mempercepat timbulnya kelainan miopi.