Kata Hati

Berbagi isi hati, berbagi pengalaman, berbagi info ringan.

Patah hati sudah lewat

tenang saja, patah hati sudah lewat.
aku sekarang sudah lebih kuat.
tak kan jatuh hanya karna tertusuk duri.
dan tak kan mati hanya karna tersengat bara api.


ini bukan posting galau
ini tentang hati yang sudah (dan tetap berusaha) ikhlas
tentang senyum bahagia atas masa
atas sedikit waktu bersama kalian
bersama teman dan sahabat yang datang pergi bergantian
saling mengingatkan atas kesalahan



sekian dan terima sumbangan. #eh

Curug 7 Bidadari

Kawasan wisata ini masih tergolong karena baru ditemukan April 2010. Lokasi curug 7 bidadari berada di Desa Bantir, Kecamatan Sumowono (deket Bandungan), Kab. Semarang. Kira-kira 2 km dari barak militer Angkatan Darat RI di desa Bantir. Seperti namanya, curug (air terjun) ini terdiri dari 7 curug di tempat yang sama berbentuk tingkatan. Jalan menuju ke lokasi wisata sudah beraspal (walalupun belum lebar), tidak seperti jalan ke curug Benowo atau Semirang.


Waktu saya berkunjung ke sana (25 Desember 2011) fasilitas sudah lengkap. Mushola, toilet, parkir luas, penjual jajanan lumayan banyak. Ada juga lokasi untuk berkemah di sekitar curug. Kurang afdhol rasanya kalo sampai di tempat ini belum nyemplung, minimal main airnya. Curung yang tidak tinggi dan terdapatnya beberapa kolam alami yang tidak dalam (salah satunya sekitar 1,5 m) menjadikan Curug 7 Bidadari cocok untuk tempat wisata keluarga dan bermain air. Sayangnya waktu itu saya tidak bawa pakaian ganti, jadi tidak bebas basah-basahan. hehehe..

Memangnya, siapa kita?


Memangnya, siapa kita?
Begitu bangga dengan mobil, rumah, tanah dan semua harta yang kita punya. Kepada yang lebih miskin palingkan muka dan berlagak tinggi di hadapannya. Tapi ketika harta lepas dari tangan lalu menangis tak berkesudahan.

Memangnya, siapa kita?
Begitu aqad nikah diiqrarkan, langsung merasa dialah suami pasangan jiwa milik kita? Hingga kita menangis sedih saat suami harus pergi bekerja beberapa lama. Hingga kita merasa tak dipedulikan saat suami pulang larut malam padahal untuk mencari nafkah bagi kita dan keluarga.

Hey, kita ini hanya dititipi, dan kapan saja dapat diminta-Nya kembali. Kita tak pernah benar-benar memiliki: pasangan hidup, harta, bahkan diri kita sendiri. Kita ini cuma peminjam, yang sering masih merengek-rengek minta dipinjami yang lebih baik lagi. Ah, peminjam yang tak tahu diri.
Kita tak pernah benar-benar memiliki, pun diri kita sendiri.


sumber: firmadani (dengan sedikit perubahan)

Curug Lawe dan Benowo

Jalan-jalan kali ini masih bersama dengan rombongan (biar keliatan banyak) @kopdar_loenpia. Lokasi yang dipilih yaitu Curug Lawe - Benowo. Pertama kali denger itu, aku kira cuma 1 curug (Curug Lawe/Benowo). Ternyata ada 2, curug Lawe dan Curug Benowo. Lokasinya ada di desa Kalisidi, Gunungpati, Kab. Semarang. Biaya masuk (per tanggal 18 Desember 2011) sebesar Rp 3,000 dan parkir Rp 2,000. Cukup murah untuk wisata alam.

Jarak antara lokasi parkir dengan curug cukup jauh dan hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Perjalanan awal melewat kebuh cengkeh dan saluran irigasi. Sebelah kanan irigasi tebing, sebelah kirinya jurang, jalan sempit, hanya bisa lewat 1 orang. Tapi lumayan, jalannya sebegian besar sudah beton, ga becek. Menengok sebelah kiri kita dimanjakan oleh pemandangan yang Subhanallah, indahnyaa. Tapi, lihat pemandangan sebelah kiri jangan sambil jalan. Ingat, jangan sambil jalan! Berhentilah sejenak ketika menengok kanan atau kiri, karena jalannya sempit dan sebelah kiri itu jurang. Sesampainya di bendungan (?), pangkal dari sumber irigasi warga kita bisa istirahat sejenak sebelum mulai jalan lagi. Dikarenakan rute selanjutnya jalan setapak dan sungai disarankan memakai sandal/sepatu gunung atau kalau tidak mau alas kakinya basah tanpa alas kaki juga boleh. Tenang...tidak ada duri tajam dan sejenisnya di sepanjang perjalanan. Total perjalanan dari parkiran sampe curug Benowo 1 jam lebih, perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan. Persiapkan fisik anda untuk itu. Bagi yang sudah terbiasa mungkin akan lebih menikmati pemandangan sekitarnya yang memanjakan mata dengan pohon-pohon rindang yang berusia (mungkin) putuhan tahun, dengan suara gemercik air dan sesekali suara burung.

Punk juga Manusia

Berawal dari berita yang beredar di media Indonesia bahkan sampai Malaysia tentang punk, saya jadi tertarik untuk share. Berbagi cerita sewaktu awal-awal saya mulai menerima gaji. Setahun pertama kali kerja di pinggir jalan, di depan kampus terbesar di kota kecil Salatiga. Cerita waktu saya belum kenal dengan yang namanya email. Cerita masa lalu sekitar tahun 2005 atau 2006 (agak lupa). Lokasi berjualan dekat dengan jalan lampu merah, jalan besar pula. Lokasi yang memang biasanya dijadikan mangkal anak-anak punk untuk ngamen.

Karena hampir setahun hampir setiap hari kami bertemu, secara otomatis saya sedikit kenal dengan beberapa dari anak punk. Cuma kenal aja, bukan sebagai teman dekat apalagi sahabat. Ada 3 orang yang saya cukup kenal waktu itu. Pertama Hoho' (bukan nama sebenarnya), punk yang lama tinggal di Salatiga. Dikenal dengan penunggu kantin kampus. Banyak cewek kampus yang kenal dengannya. Kerjaannya parkir di depan kampus, di depan saya berjualan. Yang kedua, Ucil (bukan nama sebenarnya juga). Kalau dia bukan asli Salatiga tapi waktu itu sering di Salatiga. Sama seperti Hoho', jarang mandi dan ganti pakaian. Ucil ini seperti punk-punk yang saya temui di pinggir jalan lainnya. Dia kadang ke luar kota bersama punk lainnya. Kerjaannya ngamen di warung-warung depan kampus dan kadang di lampu merah (sekitar 50m dari gerbang kampus) dengan lagu wajib Punk Rock Jalanan. Yang ketiga, Amed (bukan nama sebenarnya). Kerjaannya bersama Hoho' jaga parkir (ilegal) di depan kampus. Dia juga dipasrahi beberapa pedagang untuk bongkar/pasang tenda tempat berjualan. Yang membuat beda Amed dari punk lainnya adalah dia sudah punya istri (entah itu istri sah atau tidak), punk juga.

older post home