Media sosial bisa dibilang sudah menjadi kebutuhan sehari-hari bagi sebagian orang. Media sosial dijadikan sebagai salah satu lahan untuk berinteraksi sesama penggunanya, seperti halnya di dunia nyata. Saling menyapa, berkomentar dan berbagi informasi. Salah satu bentuk media sosial yang berkembang pesat adalah jejaring sosial. Hal yang mendorong seseorang untuk ikut dalam jejaraing sosial adalah kita bebas menjadi apa dan siapa saja di sana, bebas menyampaikan pendapat secara terbuka.
Menurut Antony Mayfield dari iCrossing, media sosial adalah mengenai menjadi manusia biasa. Manusia biasa yang saling membagi ide, bekerjasama, dan berkolaborasi untuk menciptakan kreasi, berfikir, berdebat, menemukan orang yang bisa menjadi teman baik, menemukan pasangan, dan membangun sebuah komunitas. Intinya, menggunakan media sosial menjadikan kita sebagai diri sendiri.
Seperti halnya dalam dunia nyata, kumpulan orang di jejaring sosial yang mempunyai kesamaan hobi/minat, tujuan atau kesamaan regional akan cenderung untuk membuat suatu komunitas. Sesama anggota dalam komunitas biasanya akan lebih akrab dibanding dengan orang di luar anggota komunitas. Dalam jejaring sosial yang sama, keakraban dalam komunitas dan besarnya komunitas tidak jarang membuat iri orang di luar anggota yang menjadikan mereka ingin pula ikut di dalamnya. Ingin merasakan juga canda tawa bersama.
Sikap iri tersebut biasanya datang dari pendatang baru di jejaring sosial atau bahkan di dunia online. Sebagai pendatang baru (newbie), biasanya memandang mereka yang ikut dalam komunitas hanya berinteraksi sesama komunitasnya, sibuk ngobrol sendiri antar anggota komunitas. Sehingga terlihat seperti geng dan menimbulkan eksklusifisme. Newbie jadi merasa dicuekin dan merasa yang ikut komunitas sok gaul, cool dan 'sombong'. Padahal tidak semua anggota komunitas memiliki sifat yang disebutkan itu.