18 Mei, 2012

Egois dalam doa

Sering kali (atau malah jadi kebiasaan?) kita lupa, kita tidak akan bisa berdiri sendiri. Kita sering mengeluh ketika berbagai masalah mendatangi kita satu per satu, tapi kita lupa bahwa bukan cuma kita yang bermasalah seperti itu. Kita juga sering kali meminta bantuan teman atau orang terdekat ketika ada masalah, bahkan kadang hanya masalah sepele. Sering kali meminta bantuan ini itu untuk masalah yang sebenarnya bisa kita selesaikan sendiri.

Memang tidak salah meminta bantuan teman. Tidak salah kita meminta bantuan mereka untuk sama-sama memecahkan suatu masalah kita, karena memang itulah fungsinya teman. Tapiii... bukan berarti kita terus menerus memanfaatkan mereka untuk kita mintai bantuan lalu lupa ketika masalah kita telah terselesaikan. Cuma berbagi disaat masalah datang dan lupa ketika gembira menyapa. Misalnya saja ketika akhir bulan, pegawai galau akan kebingungan nyari teman untuk utang tapi lupa ketika gajian.

Kadang bukannya kita tidak mau berbagi bahagia, tapi (mungkin) bingung mau berbagi kebahagiaan seperti apa. Sekedar sapa dan berbagi canda tawa bersama adalah hal yang luar biasa bagi teman. Tapi ada satu hal yang sering kita lupa, yaitu doa. Sering kali kita egois ketika berdoa meminta sesuatu seakan masalah kita lebih penting, mendesak dan lebih berat daripada masalah orang lain. Kita lupa tiap manusia punya masalahnya masing-masing. Karena masalah ini subjektif kita tidak bisa menilai masalah kita lebih besar daripada orang lain. Disamping berdoa untuk diri sendiri tidak ada salahnya mendoakan saudara, teman, ataupun orang lain. Lalu untungnya apa buat kita?

“Tidak ada seorang muslim pun yang mendoakan kebaikan bagi saudaranya (sesama muslim) tanpa sepengetahuannya, melainkan malaikat akan berkata, “Dan bagimu juga kebaikan yang sama.” (HR. Muslim no. 4912)
Siapa yang menanam maka ia akan menuai. Siapa yang memberi maka ia akan mendapatkan kembali. Adakah seorang yang tidak ingin didoakan kebaikan oleh malaikat? Semakin banyak kita mendoakan kebaikan kepada saudara kita, maka malaikat juga akan mendoakan kebaikan yang serupa untuk kita. Tapi dengan catatan doa untuk saudara itu tidak diketahui oleh yang bersangkutan. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam mengajarkan kita bukan hanya berdoa untuk diri kita sendiri dan orang tua, tapi juga saudara-saudara kita (seiman) yang kita kenal dan tidak kita kenal. Jadi urutan berdoa yang dianjurkan adalah: hamdalah, sholawat, doa untuk diri sendiri lalu orang tua baru kemudian orang lain dan ditutup dengan sholawat dan hamdalah.

Masihkah kita egois memikirkan diri kita sendiri ketika berdoa?

1 komentar: