09 September, 2013

Air Terjun Parang ijo: hanya ijo

Dadakan, selalu saja berhasil membuat kesan. Apapun itu. Dan sabtu pagi 7 September 2013, setengah jam sebelum berangkat kerja saya dikabari temen yang baru saja pindah kos di Solo ngajak ke Kemuning. Sebenarnya saya yang ngajak, tapi dulu. Itupun baru rencana yang entah kapan akan terlaksana. Saya langsung telepon temen kantor untuk gantiin saya pagi itu. Dan alhamdulillah kantor saya ini termasuk yang sangat longgar untuk jam kerja dan hari libur. Asal bisa negosiasi dengan temen kerja, bisa tukeran jam kerja dan hari libur.

Perjalanan dari salatiga sampai UMS pagi itu cukup lancar, hampir satu jam. Tujuan awal kami berempat adalah kebun teh Kemuning dan Curug/Air Terjun Jumog. Walaupun belum ada satu pun diantara kami yang pernah ke sana tapi kami punya GPS (Guidance Penduduk Setempat) jadi tenang saja. Entah GPS-nya kurang akurat atau kami yang kurang bisa mengerti bahasa GPS ini. Kami nyasar sampai candi sukuh. Jika ke Jumog kembali terlalu jauh, akhirnya kami memutuskan ke Air Terjun Parang Ijo yang lebih dekat baru ke Kemuning.



Sampai di parkiran agak kaget, mobil cuma satu, motor pengunjung (kalau tidak salah) kurang dari sepuluh. Sepi, pikirku. Biaya parkir dua ribu per motor dan tiket masuk tiga ribu per orang, cukup terjangkau. Jarak dari tempat parkir sampai ke air terjun cukup dekat, mungkin sekitar 300 meteran. Di sekitar lokasi disediakan taman kecil untuk sekedar istirahat sambil menikmati indahnya alam sekitar lokasi air terjun. Selain air terjun, di sekitar lokasi wisata juga tersedia fliying fox dan kolam renang. Agak ke atas dikit (menurut petunjuk) ada bumi perkemahan. Saya sebenernya pengen banget nyoba fliying fox, tapi tidak jadi karena waktu itu tidak ada petugasnya. Di pinggir kolam renang tertulis dua ribu sekali renang, tapi kata anak-anak yang sedang main di pinggir kolam itu GRATIS.

Entah ini cuma perasaan saya atau memang kebetulan saja, kurangnya pemeliharaan lingkungan sekitar lokasi wisata. Banyak sampah organik (daun-daun dan tanaman) di bawah air terjun, tidak adanya petugas fliying fox, dan kotornya kolam renang. Satu lagi.. ada seekor monyet di dalam kandang, tapi aku tidak melihat makanan di dalamnya melainkan sampah botol mineral. :'( Mau beri makanan pas tidak bawa makanan sama sekali. Secara keseluruhan tempat ini biasa saja seperti air terjun kecil yang lainnya, dibandingkan dengan yang sudah saya kunjungi lebih keren curug Benowo dengan jalur tracking-nya.

Airnya dikit, mungkin karena musim kemarau.

Terdapat beberapa curug mini yang dapat dipakai untuk berfoto.

Seperti kebanyakan penduduk pegunungan, di sini mereka juga kebanyakan berprofesi sebagai petani sayuran. Wortel, buncis, kol, lombok, dll.

Tujuan selanjutnya ke kebun teh Kemuning, masih sama seperti dua tahun yang lalu. Masih hijau, masih sejuk, masih menyenangkan untuk dipandang. Tidak banyak berubah.

Jangan kawatir kelaparan di sni banyak yang jual makanan di pinggir jalan, tapi agak masuk ke dalam.

Di tempat yang sama, dengan orang yang berbeda.

Maha Suci Allah atas segala ciptaannya.

1 komentar:

  1. Yang kebun teh Ngargoyoso emang beneran sip ya gan :D

    BalasHapus