17 Mei, 2014

Berbagi Bahagia


Di media sosial beberapa teman sering kali update mengenai hubungan (status), pernikahan, kelahiran, piknik ke luar negeri atau luar pulau. Atau sejumlah kebahagiaan yang lain. Mulai dari update text, foto sampai video. Kebahagiaan itu menular, makanya mereka berbagi. Berharap bahagia yang mereka rasakan juga menular yang lain. Jika ada yang bertujuan untuk pamer, menunjukkan dirinya bisa, atau kesombongan yang lain itu mungkin sebagian kecil yang lain. Semoga kita bukan termasuk yang di dalamnya.

Sebagian yang lain lagi memilih untuk diam. Media sosial bukan untuk tempat untuk mengumbar. Ada yang memanfaatkannya untuk berdagang, berbagi/mencari ilmu, atau sekedar stalking akun-akun tertentu. Memilih untuk menjadi anonymous di dunia online. Apapun pilihannya, menjadi diri sendiri atau bersembunyi yang penting tujuannya baik. Dan semoga ditempuh dengan cara yang baik pula. Itu sudah cukup. Diam atau bicara, menunjukkan diri atau bersembunyi, jika dilakukan pada saat yang tepat sama saja bisa memberi pengaruh yang baik.


Kembali ke permasalahan awal, berbagi bahagia. Pernikahan misalnya. Sudah menjadi kebiasaan pengguna media sosial untuk mengumumkan perihal hari bahagia tersebut. Di sini saya tidak ingin membahas apakah itu hal yang salah atau benar, hanya ingin berbagi. Mengingatkan diri akan niat atau tujuan, mengapa berbagi mengapa bersembunyi. Apakah berbagi hari bahagia untuk memberitahu mereka bahwa yang bersangkutan sudah tidak jomblo sehingga bukan lagi menjadi objek bully. Atau memberitahu mereka bahwa yang bersangkutan sudah tidak jomblo lagi karena mengikuti sunnah Nabi (sunnah untuk menikah dan sunnah untuk menyebarkannya). Memilih bersembunyi karena ingin orang-orang tertentu saja yang tahu, yang penting keluarga dan tetangga sekitarnya. Atau memilih bersembunyi karena tidak ingin bertemu beberapa teman yang sedang ada masalah dengannya.

Saya sendiri memilih untuk berbagi bahagia, walaupun tidak sepenuhnya, dengan sederhana. Sebulan yang lalu, tanggal ini menjadi salah satu hari bahagia untukku (istriku, dan keluarga kami). Di semua media sosial yang saya punya sudah saya sebar undangan. Saya bilang tidak sepenuhnya karena tidak semua saya bagi di situ, salah satunya foto. Tidak pakai prewedding, tidak pakai foto sedikitpun. Bahkan foto afterwedding pun tidak ada di media sosial. Banyak yang tanya, terutama teman-teman istri saya; fotonya mana? Saya sendiri termasuk penganut yang tidak suka unggah foto diri, foto narsis, apalagi foto mesra. Biarlah mesra cuma kami nikmati berdua. Jadi harap maklum kalau foto kami tidak menyebar di social media.

Tidak semua yang tahu kebahagiaan orang lain akan merasakan hal yang serupa. Walaupun sebagaimana kita tahu, bahagia itu menular. Tapi terkadang ego mendominasi, iri menguasai hati. Pun semua kebahagiaan mereka belum tentu menjadi kebahagiaan kita juga. Saya sudah pernah menjadi jomblo 29 tahun lebih, jadi tahu rasanya. hehehe..

Tidak ada yang salah dengan berbagi bahagia, tapi memang tidak semua hati mampu menerima.

وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَ‌بِّكَ فَحَدِّثْ
wa amma bini'mati robbika fahaddits.
Dan teradap nikmat Tumanmu maka sebutkan/siarkanlah. [Adh-Dhuha (93:11)]

1 komentar:

  1. Duh, mas. Kok, selalu ngena. Selamat, ya. Turut bahagia. Semoga sakinah. :)

    BalasHapus