27 Mei, 2014

Gua Kiskendo dan Curug Klenting Kuning

Kiskendo adalah gua yang ada di Trayu, Kecamatan Singorojo, Kabupaten Kendal. Gua ini terletak agak terpencil, untuk menuju ke sana jalur transportasinya belum mulus. Yang kedua (Klenting Kuning) ada di Kemawi, Kecamatan Sumowono, Kabupaten Semarang. Jadi ceritanya kemarin itu setengah hari mengunjungi dua tempat wisata di dua kabupaten.

Dengan penuh perjuangan melewati jalur dengan banyak ranjau di jalan menuju Gua Kiskendo akhirnya kami sampai. Di tempat parkir cuma ada beberapa kendaraan roda dua dan satu mini bus. Sepi. Perjalanan dari parkiran sampai ke gua tidak jauh, cukup 5 menit sudah sampai. Sampai di gua kita akan dihadapkan dengan pintu gua yang cukup besar. “Cuma ini?” pikirku waktu itu, ternyata masih ada gua selanjutnya dengan melewati jalan kecil. Di gua selanjutnya ada beberapa gua-gua kecil dengan tinggi 0,5 sampai dengan 1 meter. Gua besarnya cuma satu (setahuku) tapi saya tidak masuk karena ada aliran sungai di bawahnya. Yang membuat menarik gua ini adalah Ray of Light, garis-garis cahaya yang muncul dari atas ke dalam gua.


Setelah menikmati cahaya dan segernya air gua, kami kembali ke parkiran. Sebelum sampai di parkiran kami sempetkan untuk belok sebentar melewati jembatan menikmati pemandangan. Ternyata ada sedikit tempat yang bisa dimanfaatkan untuk camping di situ. Sudah siang, setelah sholat dan makan siang kami lanjutkan ke lokasi selanjutnya. Rencananya waktu itu kita akan ke Curug Panglebur Gongso.


Ternyata temanku itu juga belum tahu persis lokasinya. Setelah memanfaatkan GPS (Guide Penduduk Setempat) kami diberi pentunjuk menuju Curug Panglebur Gongso. Karena kami kurang cermat mengamati petunjuk yang ada di pinggir jalan, setelah perjalanan cukup jauh belum juga kami temukan. Kebetulan kami menemukan Curug yang lain, akhirnya kami putuskan untuk belok daripada harus mencari lagi.


Curug Klenting Kuning, dari namanya saya baru kali ini mendengarnya. Sepertinya menarik. Dari jalan raya cukup dekat, masuk gang sekitar 600 meter dengan jalan plester. Benar saja, ini termasuk objek wisata baru yang dikelola oleh masyarakat sekitar curug. Kalau dari bentuknya curug ini termasuk biasa saja, hanya warna batunya saja yang sedikit berbeda; kekuningan. Yang membuat sedikit menarik dari curug ini adalah dibuatnya taman-taman kecil di sekitarnya. Ada gazebo juga untuk kumpul keluarga atau rombongan. Penjual minuman dan makanan ringan cuma ada satu. Di bawah curug dibuat kolam yang bisa digunakan untuk berenang, tapi harus kuat dingin jika ingin berenang di situ. Di sebelah curug Klenting Kuning ada curug yang lebih kecil juga kolam di bawahnya dengan kedalaman setengah meter, bisa digunakan anak-anak berenang. Di sini cocok digunakan untuk wisata keluarga.


Perjalanan pulang terasa lebih dekat, karena kita tidak melewati jalur sebelumnya. Sesuai petunjuk penjaga, jalan lanjutan tadi ternyata terbus ke Bandungan. Selain lebih dekat, lebih singkat waktunya, juga lebih mulus jalannya daripada kembali lewat jalan sebelumnya.

Dua tempat tadi (Gua Kiskendo dan Grojogan Klenting Kuning) sama-sama memiliki keindahan tersendiri. Jika saja jalur transportasi semulus paha sapi (halah), mungkin kapan-kapan saya akan ke sana lagi bersama saudara atau teman yang lain. Untuk Curug Klenting kuning, keindahan dan kenyamanannya masih kalah dengan Curug Tujuh Bidadari yang lokasinya tidak jauh dari situ.

Selanjutnya, jalan-jalan ke mana lagi kita?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar