2 hari, tepatnya tanggal 13 dan 20 November 2011 kemarin saya sebagai mahasiswa teladan harus mengikuti UAS yang diselenggarakan oleh pihak universitas dengan persiapan seadanya. Tidak lupa alat tulis menulis: pensil, penghapus, isi cutter (ya,cuma isinya karena cutternya entah kemana), landasan untuk nulis dan tentunya kartu tes. Dengan intensitas belajar yang sangat kurang, persiapan mental juga wajib disiapkan.
Dari dulu guru kita sering mengingatkan masalah yang satu ini, yaitu menyontek. Bukan cuma mengingatkan bahkan ada guru yang mengancam memberi nilai E atau 5 bahkan tidak memberi nilai bagi yang ketahuan menyontek. Syerem! Tapi namanya juga usaha, sebagian murid/mahasiswa tetap saja nekat mencuri-curi waktu dan kesempatan untuk menyontek. Ada beberapa photo yang berhasil saya ambil waktu ujian di Pekalongan 2009 yang lalu, silakan lihat di gallery multiply saya. Ya, mereka menyebut itu sebagai usaha. Tapi apakah usaha yang mereka maksud itu sudah benar? Yang aku tahu dengan menyontek kita telah membohongi diri sendiri dan orang lain. Tidak/kurang percaya pada kemampuan diri sendiri dan terlalu sibuk dengan penilaian orang lain. Sibuk dengan penilaian orang lain tentang nilai yang menentukan prestasi. Harusnya kita sibuk dengan sesuatu yang lebih penting yaitu ilmu. Lulus dengan nilai tinggi hanya menjamin penilaian orang lain terhadap kemampuan atau kepintaran kita, tapi tidak akan menjamin kita akan sukses.













