02 Januari, 2014

Camping (Wisata Kuliner) di Pos Mawar

Berawal dari foto Umbul Sidomukti yang lewat di timeline twitter, saya tertarik untuk ikut nimbrung rencana camping temen saya beserta rombongannya dari Purwokerto. Seingat saya, ini adalah camping ketiga ssampai seumur hidup saya. Dua sebelumnya itu waktu pramuka SD dan SMP, sudah lupa rasanya. Ketertarikan saya ini sebenarnya karena foto Umbul Sidomukti, pengen ke sana lagi. Ternyata mereka tidak jadi mampir karena USM terlalu penuh, mungkin karena pas liburan akhir tahun. Tidak menarik lagi kalau penuh orang. Jadi ahad siang mereka langsung menuju ke Pos Mawar untuk camping.

Pos Mawar adalah pos pertama untuk pendakian Gunung Ungaran. Akses untuk menuju ke sana cukup mudah, baik menggunakan motor atau mobil. Tempatnya berada di atas Umbul Sidomukti, sekitar 400 m. Pada akhir pekan biasanya ramai pengunjung yang ingin sekedar camping atau mendaki ke Gunung Ungaran. Kecuali akhir tahun ini memang banyak yang berkunjung (kata penjaganya). Selain akses mudah, yang membuat orang tertarik ke sini adalah fasilitas yang cukup lengkap. Mulai dari air yang melimpah (empat kamar mandi), mushola, warung makan, listrik (di warung) dan keamanan. Areanya lumayan luas, cukup untuk menampung belasan tenda dan waktu kami ke sana area camping sepertinya sedang diperluas.


Sesampai saya di sana tenda sudah didirikan, jadi tinggal nongkrong saja. Karena Pos Mawar menghadap ke Timur, jadi tidak ada pemandangan istimewa waktu sunset. Di waktu malam kita akan disuguhi pemandangan kelap-kelip lampu berjajar mulai dari Ungaran sampai Salatiga. Juga cahaya bintang jika beruntung atau cuaca mendukung. Jika camping di sana hal yang perlu diperhatikan adalah sampah. Di belakang warung sudah disediakan lubang cukup besar bertuliskan TEMPAT SAMPAH. Jadi diharap pengunjung membuang sampah pada tempatnya, sekecil apapun. Biasakanlah mengumpulkan sampah sampai menemukan tempat sampah.

Dua kata yang ada di benak saya tentang camping adalah: masak dan cerita. Malam di pinggir hutan, (harusnya) sepi. Waktu yang cocok untuk bercerita, tentang apa saja. Mulai dari cerita cinta horor, karir, sampai nostalgia. Semua bisa jadi bahan pembicaraan di waktu yang cukup panjang. Tak lengkap rasanya kalau camping tanpa memasak. Sebenarnya di Pos Mawar tidak masak pun tak masalah karena sudah disediakan warung, tapi warung tidak mesti buka (tidak selalu buka). Lagian camping tidak akan menarik jika makan di warung. Untungnya ada di antara kita pemilik cafe, jadi bahan masakan yang biasa bisa diolah menjadi masakan yang berbeda. Karena sudah ada ahlinya, kita tidak masak rame-rame. Cukup dua orang saja, yang lainnya bagian menghabiskan.

Karena belum terbiasa dengan udara gunung, kaki saya yang terbungkus kaos kaki masih kedingingan. Jadi susah tidur. Karena dome sudah diisi dengan empat wanita dan tiga orang laki-laki tidur di luar semua saya terpaksa ikutan tidur di luar. Katanya tidur di dome sama saja, malah lebih dingin (kata gitu). Yang tidur di luar juga masih di bawah tenda sebenarnya, tapi tenda sederhana cuma untuk menghalangi angin malam saja biar tidak terlalu dingin. Satu orang bapak yang tidak persiapan waktu itu terpaksa tidur di mobil karena tidak bisa tidur di luar. Tinggal saya berdua sama teman dari Semarang yang tersisa (masih melek) sampai pagi sambil mempertahankan api unggun sebagai penghangat. Yang ingin membuat api unggun tapi tidak ingin repot, tidak perlu mencari kayu di hutan. Beli saja di warung, mereka menyediakannya. Kami sangat beruntung mulai dari mendirikan tenda sampai merubuhkannya tidak ada hujan, cuma gerimis kecil (hujan kabut katanya) waktu dini hari.

Kami berdua yang terakhir tidur (jam 03:30), dan kami berdua pula yang pertama bangun. Setelah sholat subuh kami berdua tidak akan tidur melewatkan pemandangan sunrise yang ditunggu. Setelah beberapa jam menanti, ternyata kami kurang beruntung. Deretan awan menutupi cahaya matahari sampai matahari agak naik. Tapi tak apa, berbagai cerita bersama sudah cukup menyenangkan bagiku. Masih ingin camping di sana lagi jika ada yang mengajak.

Terima kasih untuk +Olipe Oile, +Neng Dyraa dan rombongan dari Purwokerto yang sudah mengijinkan saya untuk bergabung camping bersama. Terima kasih juga untuk +Teguh Budi Purwono untuk jagung manis dan berbagai cerita pengantar tidurnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar