09 Mei, 2014

Kabut Gedong Songo

Gedong Songo atau bahasa Indonesianya Bangunan Sembilan, salah satu objek wisata alam yang ada di Bandungan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Dari Semarang atau Ambarawa ambil ke arah pasar Bandungan lalu ke arah Sumowono atau Temanggung. Jika sudah sampai di SPBU pertama tinggal nengok ke kanan lalu ikuti petunjuk besar yang ada, kalau dari arah Temanggung ambil arah ke Sumowono atau Bandungan. Objek wisata yang lain yang ada di Bandungan ini diantaranya: Curug 7 Bidadari, Umbul Sidomukti, dan Pos Mawar.

Benar-benar waktu yang kurang tepat untuk berkungjung/piknik di Gedong Songo. Saat kami (saya bersama istri) sampai di lokasi, kabut mulai turun menutupi daerah sekitar candi. Ditambah sore itu hujan baru saja reda. Lengkap sudah, suasana candi menjadi sepi. Sepi pengunjung juga sepi penjual. Karena terlanjur sampai, kami memutuskan untuk masuk.


Memasuki candi pertama yang biasanya ramai pengunjung (diantara candi yang lain) waktu itu cuma kami berdua di situ. Karena hujan baru saja reda tanah sekitar candi agak becek, beberapa genangan kecil membasahi tanah candi pertama. Lanjut ke candi kedua, dengan jarak yang agak jauh dari candi pertama. Bagi yang pertama kali ke sini persiapkan fisik kalian, terutama kaki. Tapi kalau tidak mau capek bisa menyewa kuda dengan tarif 25ribu untuk sekali mengelilingi seluruh candi Gedong Songo.

Candi kedua, ini lokasi favorit saya diantara candi Gedong Songo yang lain. Dengan pemandangan yang membuat tiap pengunjung lebih betah. Kecapekan yang terbayarkan setelah berjalan cukup jauh. Tapi jangan terlalu lama di sini, masih ada beberapa candi lagi untuk ditengok.

Candi ketiga, ada tiga candi. Satu candi utama dan dua candi di samping kanan kirinya sebagai pendamping. Biasanya candi ini sepi, kalaupun ada pengunjung paling cuma numpang foto. Bukan karena candi atau pemandangan yang kurang menarik, tapi karena sebelum masuk ke candi ketiga ini ada jalan bercabang yang membuat orang penasaran. Dari bau belerangnya juga sudah cukup membuat orang untuk langsung berbelok menuju ke sumber bau yang dimaksud. Dari atas sudah terlihat taman kecil dengan beberapa bangunan tempat mandi air panas. Dua kali ke sini tapi belum pernah mencoba masuk. Di sini juga terdapat lubang yang membuat orang yang lewat penasaran. Lubang yang menyemburkan asap yang terlihat dari tempat yang cukup jauh.
foto diambil waktu cuaca cerah

Karena waktu sudha semakin sore kami lanjut ke candi berikutnya, kawasan terakhir dari perjalanan panjang ini. Di kawasan ini berdiri tiga candi dengan jarak yang lebih dekat daripada candi-candi sebelumnya. Ada tanah lapang yang biasaya digunakan untuk beristirahat kuda-kuda sambil menunggu penunggangnya (pengunjung) berkeliling menikmati tempat terakhir. Beberapa penjual juga sudah berjajar di sini, jangan takut kelaparan. Di candi terakhir (Candi Gedong V) kita bisa melihat beberapa gunung jika beruntung. Tapi sepertinya saat itu saya kurang beruntung, kabut masih cukup tebal.

Sampai sekarang masih bertanya-tanya, mengapa satu candi (yang paling ujung) tidak dihitung sebagai satu candi. Padahal terlihat mirip dengan candi-candi lainnya. Jika dihitung, candi yang masih tegak berdiri ada enam candi ditambah satu candi yang paling ujung tadi. Lalu mengapa diberi nama Candi Gedong Songo (Sembilan)? Di candi terakhir terdapat beberapa reruntuhan candi, mungkin dulunya itu candi. Jadi sembilan candi itu termasuk reruntuhan yang tadi.

Jalur turun/pulang kami mengambil jalur yang berbeda dengan waktu naik. Ternyata benar, waktu turun terasa lebih singkat melewati jalur ini. Jalan untuk naik dan turun untuk jalur kuda ada tersendiri, walaupun sebagian masih jadi satu dengan jalan umum tapi jalannya kuda tidak akan mengganggu jalannya pejalan kaki. Jalur turun lebih berliku dan licin, disarankan jangan menggunakan alas kaki yang licin saat ke Gedong Songo untuk kenyamanan kita. Oh, iya.. di sana ada tempat sampah. Jadi buanglah sampah pada tempatnya.

Ini kali kedua saya ke Candi Gedong Songo. Pertama dengan teman dan anak balitanya, lalu yang kedua dengan istri. Kalau ada yang mengajak lagi mungkin saya mau ke sana lagi, untuk mengganti kekecewaan saat kali kedua saya ke sana. Ada lagi yang mau mengajakku?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar